PADANG — Panitia Penyelenggara Sepekan kreativitas Bersama (SeIBa) mengundang para pakar untuk membicarakan dunia melayu Islam Asia Tenggara untuk tampil membentang pemikiran dalam Seminar Kebudayaan. Akademisi yang telah menyatakan hadir dari Filipina, Thailand dan Kamboja. Selain itu, peluang juga diberikan kepada akademisi Indonesia.
“Silahkan kirim ke panitia penyelenggara, kertas kerja untuk dibentangkan dalam Dialog Kebudayaan. Begitu banyak hal yang perlu dibicarakan dalam bingkai pemikiran dan kebudayaan jika dikaitkan dengan persoalan global, kemajuan teknologi informasi, serta geolocation,” tutur Dr. Sheiful Yazan, M.Si Tuanku Mangkudun, yang didapuk menjadi “sipangka” oleh UIN Imam Bonjol Padang, Kamis (2/11).
Menurutnya, panitia penyelenggara telah menyebarkan template untuk karya-karya pemikiran para pakar, dengan tema
International Seminar on SeIBa Fest “Answering The Challenges of Currently Islamic & Malay Culture.” Beberapa pakar telah menyiapkan tulisan terbaik untuk ivent ini, sebagai panggung menyampaikan wacana pembaruan Islam dan Budaya Melayu.
“Konstelasi global, percaturan ekonomi, kekuasaan, terpaan budaya di luar diri Melayu adalah kajian yang penting. Selama ini banyak ditulis oleh cendekiawan Eropa, khususnya pada kajian prakolonialisme. Setelah itu, para pertengahan dan kontemporer sudah tumbuh pengkaji dari kalangan Asia Tenggara. Persoalannya, apa yang baru pada hari ini dan bagaimana masa depan. Itulah seminar ini dibentangkan,” tutur doktor bidang Tambo Minangkabau ini, antusias.
Pada bagian lain, Dr. Abdullah Khusairi, MA, dalam kajian media dakwah, kawasan Asia Tenggara adalah salah satu kawasan mempesona dari sembilan kawasan Islam di dunia sebagaimana disebut Azyumardi Azra. Corak keberislaman Asia Tenggara tidak pernah habis untuk dituliskan. Pada tingkat unieqly, paduan pemikiran Islam dan budaya tempatan perlu pengkajian mendalam. Misalnya, bagaimana A.A Navis menulis Robohnya Surau Kami (1965), sebuah cerita yang padat dengan kontestasi akal dan wahyu dalam kehidupan di Ranah Minang.
“A.A Navis dalam banyak karyanya, punya sisi Pemikiran Islam. Corak pemikirannya, bisa beralih ke sisi liberalisme, pada kesempatan lain mengandung radikalisme. Secara teologi klasik, misalnya disebutkan sebagai paham mu’tazilah dan paham jabariyah,” ujar doktor Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah ini.
Banyak hal yang spesifik, pada daerah-daerah terpencil belum terungkap, karena kajian sejarah kawasan membutuhkan bukti secara filologis. Namun bagaimana jika ada bukti dalam bentuk memory kolektif yang masih hangat, ini patut juga diungkapkan untuk mencari susur galur (bridge) ke fakta sejarah lainnya.
Direncanakan, Seminar Internasional dan Panggung Seni pada ivent ini menjadi ajang pertunjukan hal-hal baru dalam bingkai differsity of malay culture. UIN Imam Bonjol Padang, sebagai PKIN tertua di Sumbar menyatakan pentingnya SeIBa International Fest sebagai sebuah plaform pertemuan perbincangan peradaban Islam kawasan Asia Tenggara yang rutin, hal itu belum ada. Jika pun pernah ada, lalu lesap dari ingatan publik.